di kutip langsung dari kuliah subuh Aa Gym yang sedang ada di Madinah
Assalamualaikum ww
Semoga kita menjadi orang yang mengenal waktu dan membela istiqomah. Pada waktu hijrah dari Mekkah ke Madinah, mulailah tatanan komunitas terbentuk, aturan syariah Islam terbentuk. Di Mekah, 13 tahun pertama, ayat tauhid yang di turunkan membuat kita haqqul yakin, bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Alat ukur kesuksesan pada waktu itu, rosul tidak menilai dari kekayaan, kebangsawanan, popularitas dan hal duniawi lainnya, tapi Rosul berpegang pada satu perkara: yang paling dekat, yang paling patuh pada Allah.
Rosul melihat Bilal, budak hitam, tapi beliau begitu mencintainya, dan kita tahu beliau termasuk yang di segani oleh para sahabat.
Kita mengukur kesuksesan orang kadang hanya dari gelar, jabatan, kekayaan yang di raih dan kita tidak tahu bagaimana ia meraihnya, kadang kita pengen dekat dengan orang tersebut, pengen seperti orang tersebut.
Kalau kita punya standar yang salah tentang kesuksesan, maka kita bisa salah membimbing anak-anak kita. Bukan tidak boleh punya harta dan jabatan, tapi yang di ajarkan oleh Rosul adalah yang paling taqwa ( Al Hujurat: 13).
Yang di segani adalah kekuatan iman, kepatuhan pada perintah Allah, walaupun dunia di tangan, harus menjadi yang paling hati-hati, paling istiqomah. Kepatuhan pada Allah, inilah yang membuat para sahabat beristiqomah, ibadah tangguh, tetap mulia walaupun tak punya apa-apa.
Inilah standar kesuksesan sejati yang di ajarkan oleh Nabi, tidak di ukur oleh pangkat, harta, jabatan, tapi ketakwaan. Mudah-mudahan kita bisa.
Orang kafir, orang musyrik juga diberikan harta oleh Allah, maka yang membedakan dengan kita adalah ketakwaan. Jangan silau dengan uang, harta dan kedudukan tapi pada ketakwaan lah, karena mereka orang-orang yang berkedudukan di sisi Allah.
Tanamkan kesuksesan pada anak-anak bahwa kesuksesan bukan pada topeng duniawi, tetapi yang paling di hargai adalah yang paling takwa.
Harta dibagikan pada siapa saja yang dikehendaki, tapi kalau takwa pada siapa yang dikehendaki, mudah-mudahan standar ini yang kita pegang pada lingkungan kita, yang di sukai Allah.
Demikian, mudah-mudahan ada hikmahnya.
ada penanya (seorang ibu):
ibu: Aa, ibu tidak bisa baca quran karena mata ibu sakit, bagaimana ya Aa?
Aa: Tidak ada musibah yang terjadi kecuali semua sudah tertulis bagi Allah, dan tidaklah berbangga diri, karena Allah tidak suka orang yang berbangga-bangga diri. Allah memberikan rizki dari tempat yang tidak terduga-duga, kalau sudah terjadi musibah, maka kita harus ridho.
Wassalamualaikum ww
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar